Tampilkan postingan dengan label Batak Culture. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Batak Culture. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Juni 2014

Batak Houses



Share
Most main roads which run through the Batak highlands, date back to the Dutch colonial time and the settlements along the roads are not traditional. Batakvillages used to be built far away from main roads for security reasons. The Karo villages, for example, were located on high mountain edges, surrounded by steep cliffs, which causes them to be defendable very well. People who want to see the traditional villages should leave the main road to visit the more desolate areas.

However there are many regional building styles, most Batak houses do have certain features in common. They are all square, wooden structures on pillars, with high roofs in a point. The space inside is open and unfurnished, and was traditionally used by several families at one time. The front does usually have a balcony or a veranda for storage anf for guests; pets like pigs and buffalos live in an open space under the house.

All earlier houses were traditionally covered with fibres of the arenga-palm, which also gives palmsugar and palmwine. The walls and pillars were decorated and painted with symbolic motives. The boraspatini tano or lizard, a luck- and fertility symbol of the God of the Earth, was favorite. The very important sopo or riceshed is just across the house.

Jumat, 21 Februari 2014

Story of Batak



Share
Batak tribe of North Sumatra. Area of origin is known as the residence of the Batak Karo Mainland High, Kangkat Hulu, Hulu Deli, Serdang Hulu, Simalungun, Toba, Mandailing and Central Tapanuli. The area is traversed by a series of Bukit Barisan in the region of North Sumatra, and there is a large lake called Lake Toba the Batak people. Judging from the administrative area, they inhabit the several district or this part of North Sumatra. Karo Regency ie, Simalungun, Dairi, North Tapanuli, and Asahan.


HISTORY

Batak kingdom was founded by a King in the country Toba sila-silahi (Silalahi) lua 'Baligi (Luat Balige), Parsoluhan village, tribe Pohan. The king in question is named Raja Alang Pardoksi magic power (Pardosi). Heyday Batak kingdom led by a king named. Sultan Maharaja in 1054 Hijri Bongsu managed to prosper the country with its political policies. 



CULTURAL ELEMENTS

A. Language
In the life and daily life, the Batak people use some accent, is: (1) Slang used by Karo Karo, (2) Slang used by Pakpak Pakpak, (3) Slang used by Simalungun Simalungun; (4) Slang used by people Toba Toba, Angkola and Mandailing.

Kamis, 03 Oktober 2013

Beberapa Lirik Lagu Batak Populer



Share
SAI ANJU MA AU
Aha do alana, dia do bossirna hasian
umbahen sai muruk ho tu au ito
molo tung adong na sala na hubaen
denggan pasingot hasian
Molo hurimangi, pambahenan mi na tu au
nga tung maniak ate atekki
sipata bossir soada nama i
dibaen ho mangarsak au
Reff.
Molo adong na sala
manang na hurang pambahenan ki
sai anju ma au, sai anju ma au
ito hasian
sai anju ma au, sai anju ma au
ito nalagu

ANAKKON HI DO HAMORAON DI AU
Reff…. Anakkon hi do hamoraon di au
Marhoi hoi pe au inang da tu dolok tu toruan
mangalului ngolu-ngolu naboi parbodarian
asal ma sahat gelleng hi da sai sahat tu tujuan
anakkon hi do hamoraon di au.
Nang so tarihut hon au pe angka dongan
ndada pola marsak au disi
marsedan marberlian, marcincin nang margolang
ndada pola marsak au disi
Huhoho pe massari arian nang bodari
lao pasikkolahon gellekki
naikkon marsikkola satimbo timbona
sikkap ni natolap gogokki

Senin, 07 Mei 2012

Daliahan Na Tolu Sumber Hukum Adat Batak



Share

Pengertian Dalihan Natolu secara letterlijk adalah satuan tungku tempat memasak yang terdiri dari tiga batu. Pada zamannya, kebiasaan masyarakat Batak memasak di atas tiga tumpukan batu, dengan bahan bakar kayu. Tiga tungku itu, dalam bahasa Batak disebut dalihan. Falsafah dalihan natolu paopat sihal-sihal dimaknakan sebagai kebersamaan yang cukup adil dalam kehidupan masyarakat Batak.
Tungku merupakan bagian peralatan rumah yang sangat vital. Karena menyangkut kebutuhan hidup anggota keluarga, digunakan untuk memasak makanan dan minuman yang terkait dengan kebutuhan untuk hidup. Dalam prakteknya, kalau memasak di atas dalihan natolu, kadang-kadang ada ketimpangan karena bentuk batu ataupun bentuk periuk. Untuk mensejajarkannya, digunakan benda lain untuk mengganjal. Dalam bahasa Batak, benda itu disebut Sihal-sihal. Apabila sudah pas letaknya, maka siap untuk memasak.
Ompunta naparjolo martungkot salagunde. Adat napinungka ni naparjolo sipaihut-ihut on ni na parpudi. Umpasa itu sangat relevan dengan falsafah dalihan natolu paopat sihal-sihal sebagai sumber hukum adat Batak.

Apakah yang disebut dengan dalihan natolu paopat sihal-sihal itu ? dari umpasa di atas, dapat disebutkan bahwa dalihan natolu itu diuraikan sebagai berikut :
Somba marhula-hula, manat mardongan tubu, elek marboru. Angka na so somba marhula-hula siraraonma gadongna, molo so Manat mardongan tubu, natajom ma adopanna, jala molo so elek marboru, andurabionma tarusanna.
Itulah tiga falsafah hukum adat Batak yang cukup adil yang akan menjadi pedoman dalam kehidupan sosial yang hidup dalam tatanan adat sejak lahir sampai meninggal dunia.
Somba marhula-hula.
Hula-hula dalam adat Batak adalah keluarga laki-laki dari pihak istri atau ibu, yang lazim disebut tunggane oleh suami dan tulang oleh anak.
Dalam adat Batak yang paternalistik, yang melakukan peminangan adalah pihak lelaki. Sehingga apabila perempuan sering datang ke rumah laki-laki yang bukan saudaranya, disebut bagot tumandangi sige. (artinya, dalam budaya Batak tuak merupakan minuman khas. Tuak diambil dari pohon Bagot (enau). Sumber tuak di pohon Bagot berada pada mayang muda yang di agat. Untuk sampai di mayang diperlukan tangga bambu yang disebut Sige. Sige dibawa oleh orang yang mau mengambil tuak (maragat). Itulah sebabnya, Bagot tidak bisa bergerak, yang datang adalah sige. Sehingga, perempuan yang mendatangi rumah laki-laki dianggap menyalahi adat.
Pihak perempuan pantas dihormati, karena mau memberikan putrinya sebagai istri yang memberi keturunan kepada satu-satu marga. Penghormatan itu tidak hanya diberikan pada tingkat ibu, tetapi sampai kepada tingkat ompung dan seterusnya.

Rabu, 21 Maret 2012

Adat Batak Memasuki Rumah Baru



Share
Yang pertama dilakukan memasuki rumah baru yang adalah yang memasuki secara adat.Walaupun ada yang dilakukan yang baru tidak diharuskan, karena sejak dahulu ada adat yang dibuat Simalungun.

Kerja yang mengadakan adat memasuki rumah baru:
  1. Pihak laki-laki mendatangi tulang bapa yang bersangkutan untuk menyampaikan maksud dan tujuan berdasarkan memberikan sirih yang berbatu serta ayam yang telah diatur
  2. Begitu juga kepada mertua laki-laki
  3. Menjumpai pihak perempuan untuk menyampaikan maksud dan tujuan dengan memeberikan ayam yang telah diatur.
Bahan-bahan yang perlu disediakan pihak laki-laki yaitu:
  1. Tebu yang layu mempunyai daun ,pisang yang masak untuk digantungkan di rumah,ayam yang diatur yang diberikan kepada tulang bapak dan tulangnya mama laki-laki.
  2. Ayam yang diatur ,ikan ,sayur yang diberikan kepada pihak laki-laki disertai ulos dan beras.
  3. Kepada pihak mertua laki-laki yang disediakan adalah ayam yang diatur ,ikan ,sayur ,dan ulos
  4. Saudara laki-laki juga memberikan makanan seperti yang dilakukan tulangnya bapak dengan mertua laki-laki kepada pihak perempuan.

Kamis, 08 Desember 2011

Acara Jubelium 150 tahun HKBP



Share
Akhirnya, selesai sudah rangkaian acara Jubileum 150 Tahun HKBP yang ditutup tadi sebagai acara puncak perayaan tingkat nasional di Stadion Utama Gelora Bung Karno.  Pesta Jubileum 150 tahun HKBP telah dilaksanakan oleh gereja HKBP mulai dari tingkat yang terkecil hingga perayaan yang dipusatkan dibeberapa wilayah di Indonesia seperti Tarutung, Medan, Pekanbaru, Surabaya, Balikpapan dan ditutup di Jakarta sebagai acara puncak. Pesta Perayaan Jubileum HKBP di Stadion Utama GBK  dihadiri sekitar seratus ribu jemaat yang berasal dari daerah Jabodetabek, beberapa perwakilan dari Jabar, Yogyakarta, Sulawesi, Kupang, Palembang, Jambi, Sumatera Utara, Balikpapan dan perwakilan  dari 29 Distrik HKBP, perwakilan lembaga gereja lain dari dalam dan luar negeri. Acara ini juga dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Negara, Menteri Agama surya Dharma Ali dan beberapa menteri kabinet Indonesia Bersatu, Ketua MPR Taufik Kiemas, Ketua MK Mahfud MD, Ibu Sinta Nuriyah Abdurahman Wahid,Gubernur DKI,  beberapa pejabat dan anggota DPR. Acara ini juga mendapat pengawalan dan pengawasan dari banser NU dan GP Ansor.
HKBP lahir pada 7 Oktober 1861. Gereja ini memiliki 4,5 juta jiwa jemaat dengan jumlah gereja hampir 3.300 buah tersebar di hampir seluruh Nusantara dan sebagian di luar negeri seperti di Singapura, Malaysia dan Amerika Serikat. Oleh karena itu HKBP menyandang predikat gereja terbesar di Asia Tenggara dan sebagai organisasi keagaman terbesar setelah NU dan Muhamadiyah.

Rabu, 09 November 2011

Opera Batak



Share
Opera Batak yang sempat merajai dunia hiburan di Sumatera Utara akhirnya mati suri setelah dekade 1980-an. Sejumlah upaya dilakukan untuk menghidupkan kembali kesenian yang lahir sekitar tahun 1920-an ini. Di antaranya dengan mendirikan Pusat Latihan Opera Batak (PLOt).
Jika di Jawa Timur ada ludruk, di Jawa Tengah ada seni ketoprak, maka di Sumatera Utara ada Opera Batak. Bagi suku Batak, opera dikenal sebagai hiburan kesenian tradisional yang di masanya sangat populer dan banyak diminati masyarakat. Layaknya opera di Eropa yang memadukan seni tari, seni musik, seni peran dan seni suara, Opera Batak ciptaan Tilhang Oberlin Gultom yang lahir sekitar tahun 1925 ini juga tidak lepas dari unsur-unsur seni tersebut dalam setiap pementasannya.
Pada masa kejayaannya, pementasan Opera Batak sempat merajai dunia hiburan di Sumatera Utara. Pementasan dilakukan dengan berkeliling di sejumlah daerah dan dilakukan di tempat terbuka. Biasanya dilakukan pada malam hari. Lama tur pementasan di suatu desa juga bervariasi tergantung kondisi, bisa berminggu-minggu namun tidak sampai satu bulan.
Pementasan dilakukan semenarik mungkin di atas panggung menyerupai rumah adat Batak dengan hiasan gorga, ukiran khas batak. Sedangkan untuk menghubungkan adegan ketika akan berganti dari selingan lagu, tari maupun lawak, pentas dilengkapi dengan tirai penutup. Pementasan Opera Batak yang dilakukan pada malam hari masih mengandalkan lampu petromak atau lampu gas yang kadang diturunkan untuk menambah suplai angin agar pencahayaan tetap terjamin. Berbeda dengan sekarang dimana panggung teater disorot dengan warna-warni cahaya lampu.
Seperti lazimnya pertunjukan profesional, penonton harus membeli tiket. Karena besarnya antusias masyarakat untuk menyaksikan pertunjukan opera, tidak sedikit di antara mereka yang rela menukarkan beras atau hasil ladangnya demi menyaksikan pementasan. Tiket baru didapatkan setelah terjadi kesepakatan di antara kedua belah pihak.
Tidak seperti pementasaan saat ini, layaknya gedung teater Taman Ismail Marzuki yang nyaman, penonton Opera Batak sering bubar karena cuaca yang tidak bersahabat. Di sisi lain, tidak jarang pertunjukan baru selesai menjelang dini hari jika lakon yang dipertunjukkan sangat menarik. Tema yang diangkat sebagai ceritapun beragam mulai dari kisah legenda, mitos, atau cerita kepahlawanan. Cerita-cerita Opera Batak juga sering mengangkat masalah-masalah kehidupan sehari-hari yang sedang hangat dibicarakan. Isinya pun tidak hanya menghibur namun juga menekankan penyampaian pesan moral yang mendidik kepada para penonton.
Namun dalam perkembangannya, Opera Batak mulai tenggelam setelah sang maestro Tilhang Oberlin Gultom meninggal pada 1970. Seiring dengan munculnya berbagai acara televisi pada tahun 1980-an, arah perjalanan Opera Batak semakin tidak menentu. Hiburan kesenian rakyat yang pernah masuk Istana pada masa Presiden Soekarno ini semakin tersisihkan dari perhatian masyarakat.

Selasa, 01 November 2011

Asal Muasal Cerita Batu Gantung



Share
Parapat atau Prapat adalah sebuah kota kecil yang berada di wilayah Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, Indonesia. Kota kecil yang terletak di tepi Danau Toba ini merupakan tujuan wisata yang ramai dikunjungi oleh wisatawan domestik maupun mancanegara. Kota ini memiliki keindahan alam yang sangat mempesona dan didukung oleh akses jalan transportasi yang bagus, sehingga mudah untuk dijangkau.
Kota ini sering digunakan sebagai tempat singgah oleh para wisatawan yang melintas di Jalan Raya Lintas Sumatera (Jalinsum) bagian barat yang menghubungkan Kota Medan dengan Kota Padang. Selain sebagai objek wisata yang eksotis, Parapat juga merupakan sebuah kota yang melegenda di kalangan masyarakat di Sumatera Utara. Dahulu, kota kecil ini merupakan sebuah pekan yang terletak di tepi Danau Toba. Setelah terjadi suatu peristiwa yang sangat mengerikan, tempat itu oleh masyarakat diberi nama Parapat atau Prapat.
Dalam peristiwa itu, muncul sebuah batu yang menyerupai manusia yang berada di tepi Danau Toba. Menurut masyarakat setempat, batu itu merupakan penjelmaan seorang gadis cantik bernama Seruni. Peristiwa apa sebenarnya yang pernah terjadi di pinggiran kota kecil itu? Kenapa gadis cantik itu menjelma menjadi batu? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisahnya dalam cerita Batu Gantung berikut ini!.
Alkisah,di sebuah desa terpencil di pinggiran Danau Toba Sumatera Utara, hiduplah sepasang suami-istri dengan seorang anak perempuannya yang cantik jelita bernama Seruni. Selain rupawan, Seruni juga sangat rajin membantu orang tuanya bekerja di ladang. Setiap hari keluarga kecil itu mengerjakan ladang mereka yang berada di tepi Danau Toba, dan hasilnya digunakan untuk mencukupikebutuhan sehari-hari.
Pada suatu hari, Seruni pergi ke ladang seorang diri, karena kedua orang tuanya ada keperluan di desa tetangga. Seruni hanya ditemani oleh seekor anjing kesayangannya bernama si Toki. Sesampainya di ladang, gadis itu tidak bekerja, tetapi ia hanya duduk merenung sambil memandangi indahnya alam Danau Toba.
Sepertinya ia sedang menghadapi masalah yang sulit dipecahkannya. Sementara anjingnya, si Toki, ikut duduk di sebelahnya sambil menatap wajah Seruni seakan mengetahui apa yang dipikirkan majikannya itu. Sekali-sekali anjing itu menggonggong untuk mengalihkan perhatian sang majikan, namun sang majikan tetap saja usik dengan lamunannya.

Peninggalan Batak berupa naskah - naskah



Share
Menyinggung tentang penamaan “Batak”, apakah penyebutan nama itu adalah asli dari orang Batak atau justru penamaan dari luar?
Hingga kini nama tersebut belum ditemukan dari mana asal usulnya.
Bahkan naskah-naskah yang sudah dipelajari di perpustakaan Koninklijk Instituut Voor Taal Land en Volkenkude (KITLV) di Leiden yaitu salah satu lembaga terkemuka di dunia yang memiliki koleksi tentang Indonesia, belum ditemukan dari mana asal-usul kata Batak itu.
Dr. Clara Brakel adalah peneliti sastra dan kebudayaan Sumatera Utara yang telah melakukan penelitian sejak tahun 1970-an bersama suaminya, Prof. Lode F. Brakel (alm).
Clara menyampaikan bahwa tujuan Dr. H.N. van der Tuuk (1824-1894) mengumpulkan naskah Batak adalah untuk menerjemahkan Alkitab ke dalam Bahasa Batak, membuat Kamus Batak (Nederduitsch Woordenboek), mengumpulkan bahan mengenai kebudayaan Batak, dan membuat tata bahasa Batak Toba.
Naskah Batak pada umumnya ditulis pada kulit kayu, bambu, dan tulang (biasanya tulang rusuk dan bahu kerbau). Naskah yang terbuat dari kertas adalah naskah yang paling baru karena orang Batak baru mengenal bahan kertas pada abad ke-19 setelah kedatangan van der Tuuk.
Pada awalnya sebelum prakolonial masyarakat Batak Toba digambarkan sebagai masyarakat tanpa negara (stateless society), diatur secara terpisah-pisah (segmentarily) dan memiliki sebuah sistem sosial yang relatif egaliter (kelompok yang sifatnya mementingkan keadilan/pemerataan)
Sistem sosial politik orang Batak Toba pada saat itu memiliki institusi-institusi politik dalam bius atau organisasi-organisasi teritorial mandiri, yakni semacam pemimpin sekuler.
Sistem politik orang Batak Toba telah mengalami perubahan setidaknya dalam empat kali fase perubahan yang semuanya telah merubah tradisi berpolitik itu.
buku 
batak
Naskah Batak merupakan bukti kemajuan tradisi tulis Batak selama berabad-abad. Naskah itu perlu diterjemahkan untuk melestarikan hasil kebudayaan bangsa masa lalu, juga sebagai usaha pencarian nilai-nilai budaya bangsa yang ada di dalamnya. Nilai-nilai budaya bangsa yang didapat dari naskah lama melalui penerjemahan tidak hanya untuk disimpan di perpustakaan atau museum, tetapi juga harus diketahui oleh masyarakat umum yang lebih luas. Salah satu caranya adalah dengan menghidupkan kembali tradisi yang positif dengan mempublikasikan naskah tersebut dan menampilkannya dalam seni pertunjukan atau dalam bentuk lainnya. Melalui cara itu akar budaya bangsa yang hidup berabad-abad lalu dapat digali lagi sehingga kebudayaan nasional yang dibangun benar-benar berasal dari hasil kebudayaan asli bangsa Indonesia.

Senin, 12 September 2011

Poda Masyarakat batak



Share
   PODA : 1
Pantun do hangoluan tois hamagoan.

2
Seang do tarup ijuk soada langge panoloti, seang do sipaingot so adong na mangoloi.

3
Unang marhandang na buruk, unang adong solotan sogot, unang marhata na juruk unang adong solsolan marsogot.

4
Tinallik dulang tampak dohot aekna. Pinungka hata (ulaon) unang langlang di tagetna.

5
Unang sinuan padang di ombur-ombur, unang sinuan hata nagabe humondur-hondur.

6
Anduhur pidong jau sitangko jarum pidong muara, gogo sibahen na butong tua sibahen na mamora, roha unang soada.

7
Aek dalan ni solu sian tur dalan ni hoda, gogo mambahen butong, tua sibahen mamora

8
Anduhur pidong toba siruba-ruba pidong harangan, halak na losok mangula jadian rapar mangan

9
Anduhur pidong toba siruba-ruba pidong harangan, halak na padot mangula ido na bosur mangan.

10
Singke di ulaon sipasing di baboan, tigor hau tanggurung burju pinaboan-boan

11
Pauk ni Aritonang pauk laho mangula, burju pinaboan-boan dongan sarimatua

12
Hotang-hotang sodohon ansimun sibolaon, hata-hata sodohonon sitongka paboaboaon

13
Handang niaithon na dua gabe sada, niantan pargaiton unang i dalan bada.

14
Hori sada hulhulan bonang sada simbohan,tangkas ma sinungkun nanget masipadohan.

15
Ijuk di para-para hotang di parlabian, na bisuk nampuna hata na oto tu pargadisan.

16
Hotang do paninaran hadang-hadangan pansalongan.

17
Bogas ni Gaja Toba tiur do di jolo rundut do di pudi , bogas ni Raja Toba tiur do di jolo tota dohot di pudi.

18
Dang sibahenon dangka-dangka dupang-dupang, dang sibahenon hata margarar utang.

19
Sinuan bulu di parbantoan dang marganda utang molo pintor binahonan

20
Sinuan bulu di parbantoan sai marganda do utang na so binahonan.

21
Niduda bangkudu sada-sada tapongan, sai marganda lompit do utang ia so jalo-jalo binahonan.

22
Manggual sitindaon mangan hoda sigapiton, tu jolo nilangkahon tu pudi sinarihon.

23
Langkitang gabe hapur, nahinilang gabe mambur.

24
Molo duri sinuan duri ma dapoton. Ia bunga sinuan bunga ma dapoton, ia naroa sinuan naroa ma dapoton.

25
Jolo marjabu bale-bale asa marjabu sopo, jolo sian na tunggane asa tu naumposo molo makkuling natunggane manangi ma naumposo.

Kamis, 18 Agustus 2011

Lirik lagu Tung So Huloas



Share

Tung So Huloas Diago Arsak

Cipt. Tigor Gipsy Marpaung

Aha do arsak ni rohami,
Aha na holip dirohami
Umbaen na sai holsoan ho,
Paboama tu au dahasian

Aut sugari ma tartodo au,
Angka nabuni dirohami
Naeng ma putihonku ho,
Asa tung mago holso ni roham

Reff :

Tung so huloas ho ito diago arsak
Tung so huloas ho ito sai tumatangis
Asa rap mengkel hita nadua 2x hasian

Interlude , Back to : *,Reff 2x

Lirik lagu Uju di Ngolungkon



Share
Sebuah Lagu yang mengisahkan keadaan orang tua yang sudah renta dan kurang sehat. Orang tua mengharapkan dalam kondisi beginilah ada perhatian anak anaknya untuk mengurus dan merawatnya. Sewaktu hidup begini yang tidak berdaya orang tua merasa bahagia sekali karena tidak merasa disia siakan. Bila sudah telah tiada, segala usaha dan perbuatan baik, parade acara penghormatan itu sia sia karena tidak melihat lagi.

Uju Di NgolungkON (Semasa Hidupku Ini)

Hamu anakhonhu…(kalian semua anak2ku)
Tampuk ni pusupusuki…(belahan hatiku)
Pasabar ma amang, Pasabar ma boru,(yang sabarlah anak-anakku)
Lao patureture au…(untuk merawat aku)
***
Nunga ma tua au…(aku sudah tua)
Jala sitogutoguon i…(dan sudah perlu dituntun untuk berjalan)
Sulangan mangan au, Siparidion au,(saat ini musti dibantu/disuapi utk makan, dibantu mandi)
Ala ni parsahitonki…(karena sakit yang aku derita)

Rabu, 13 Juli 2011

Aksara Batak



Share
Aksara Batak terdiri dari beberapa macam yaitu Aksara Batak Pakpak, Aksara Batak Simalungun, Aksara Batak Karo, Aksara Batak Mandailing, dan Aksara Batak Toba. Semua Font Aksara Batak dapat di download DISINI. Aksara tersebut ada persamaan dan ada sedikit perbedaan, sebagai gambaran perhatikan tabel perbandingan Aksara-aksara Batak tersebut

Jumat, 17 Juni 2011

KEINDAHAN AIR TERJUN SI PISO-PISO



Share


Takjub adalah kalimat pertama yang terlintas, ketika tiba di lokasi air terjun Sipiso-piso, sungguh indah. Bayangkan, sebuah air terjun yang mengalir deras, terdapat dataran yang subur ditanami tumbuh-tumbuhan dan deretan pegunungan di atasnya.

Saat memandang ke kiri air terjun, kita akan menemukan panorama Danau Toba yang menawan. Air danau yang tenang, yang sangat kontras dengan kucuran deras air terjun.

Air terjun Sipiso-piso merupakan kawasan wisata yang terletak tidak jauh dari pemukiman masyarakat Desa Tongging, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara. Air terjun ini berada di ketinggian kurang lebih 800 meter dari permukaan laut (dpl) dan memiliki ketinggian sekitar 360 kaki.

Pemandangan Danau Toba

Rasa penasaran mengajakku untuk turun, melewati jalan dan tangga yang berliku dan terjal. Dari kejauhan saja air terjun ini sudah menawan. Berjalan dan berjalan terus, meski terik matahari sudah membakar sebagian energiku.

Akhirnya, kaki yang sudah gemetaran dan peluh yang sudah berjatuhan memang sebanding dengan keindahan yang didapatkan sesampainya di bawah, di lokasi jatuhnya air terjun.

Rabu, 25 Mei 2011

Marga dan Tarombo



Share
MARGA adalah kelompok kekerabatan menurut garis keturunan ayah (patrilineal). Sistem kekerabatan patrilineal menentukan garis keturunan selalu dihubungkan dengan anak laki laki. Seorang ayah merasa hidupnya lengkap jika ia telah memiliki anak laki-laki yang meneruskan marganya.
Sesama satu marga dilarang saling mengawini, dan sesama marga disebut dalam Dalihan Na Tolu disebut Dongan Tubu.
Menurut buku "Leluhur Marga Marga Batak", jumlah seluruh Marga Batak sebanyak 416, termasuk marga suku Nias.
TAROMBO adalah silsilah, asal-usul menurut garis keturunan ayah. Dengan tarombo seorang Batak mengetahui posisinya dalam marga. Bila orang Batak berkenalan pertama kali, biasanya mereka saling tanya Marga dan Tarombo. Hal tersebut dilakukan untuk saling mengetahui apakah mereka saling "mardongan sabutuha" (semarga) dengan panggilan "ampara" atau "marhula-hula" dengan panggilan "lae/tulang".
Dengan tarombo, seseorang mengetahui apakah ia harus memanggil "Namboru" (adik perempuan ayah/bibi), "Amangboru/Makela",(suami dari adik ayah/Om), "Bapatua/Amanganggi/Amanguda" (abang/adik ayah), "Ito/boto" (kakak/adik), PARIBAN atau BORU TULANG (putri dari saudara laki laki ibu) yang dapat kita jadikan istri, dst. .

Asal usul Marga Sihombing



Share
umbantoruan merupakan salah satu marga dari suku Batak, diwarisi oleh semua yang bermarga Lumbantoruan, baik lelaki maupun wanita dari garis keturunan Bapak secara turun-temurun. Lumbantoruan yang pertama bergelar BORSAK SIRUMONGGUR, merupakan anak kedua dari Sihombing yang mempunyai 4 orang anaklaki-laki dengan urutan sebagai berikut:
  1. Silaban gelar Borsak Junjungan
  2. Lumbantoruan gelar Borsak Sirumonggur
  3. Nababan gelar Borsak Mangatasi
  4. Hutasoit gelar Borsak Bimbinan.
Marga yang diwarisi oleh keturunan masing-masing adalah Silaban, Lumbantoruan, Nababan, dan Hutasoit. Keempat gelar tersebut sering dipakai sebagai nama perkumpulan marga oleh keturunan yang bersangkutan di perantauan, atau sebagai nama nenek moyang dari marga yang bersangkutan. Misalnya marga Lumbantoruan, pomparan (keturunan) dari Borsak Sorumonggur.
Perlu dicatat bahwa mayoritas orang yang bermarga Lumbantoruan memakai marga Sihombing, sedangkan yang bermarga Silaban, Nababan, dan Hutasoit hanya sedikit yang memakaimarga Sihombing.
Mengingat keturunan dari masing-masing marga telah banyak jumlahnya, maka sejak puluhan tahun yang lalu telah disepakati oleh keturunan dari empat bersaudara: Silaban, Lumbantoruan, Nababan, dan Hutasoit untuk boleh saling mengawini. Artinya,lelaki dari masing-masing marga ini boleh mengawini perempuan marga lainnya dari kelompok empat marga yang bersaudara tersebut. Persetujuan nikah tersebut di dalam upacara tastas bombong.

Selasa, 03 Mei 2011

Arsitektur Rumah Batak



Share
Suku Batak terdiri dari enam kelompok Puak yang sebagian besar menempati daerah Sumatera Utara, terdiri dari Batak Karo, Simalungun, Pak-Pak, Toba, Angkola dan Mandailing. Suku Batak Toba adalah masyarakat Batak Toba yang bertempat tinggal sebagai penduduk asli disekitar Danau Toba di Tapanuli Utara. Pola perkampungan pada umumnya berkelompok. Kelompok bangunan pada suatu kampung umumnya dua baris, yaitu barisan Utara dan Selatan. Barisan Utara terdiri dari lumbung tempat menyimpan padi dan barisan atas terdiri dari rumah adat, dipisahkan oleh ruangan terbuka untuk semua kegiatan sehari-hari.
Desa-desa di daerah Danau Toba, meskipun saat ini telah kehilangan dibandingkandengan bentuk desa masa lampau, tetapi ciri yang umum masih ada bahkan pada desa-desa yang kecil, yaitu dikelilingi oleh sebuah belukar bambu. Pohon-pohon bambu sangat tinggi dan seringkali sulit untuk melihat rumah-rumahnya dari luar desa itu, kecuali didaerah yang berbukit. Di sekitar Balige, poros bangunan yang panjang mempunyai arah Utara-Selatan sedang di daerah bukit poros bangunan yang panjang sering diorientasikan secara melintang ke arah sudut-sudut yang tepat ke lereng-lereng bukit. Di daerah Samosir, poros bangunan yang panjang diarahkan ke Timur-Barat.
Pada mulanya Huta, Lumban, atau kampung itu hanya dihuni oleh satu klan atau marga dan Huta itu pun di bangun oleh klan itu sendiri. Jadi sejak mulanya Huta itu adalah milik bersama. Sebagaimana ciri khas orang Batak yang suka gotong royong, demikianlah mereka membangun Huta. Oleh karena Huta didiami oleh sekelompok orang yang semarga, maka ikatan kekeluargaan sangat erat di Huta itu. Mereka secara gotong royong membangun dan memperbaiki rumah, secara bersama-sama memperbaiki pancuran tempat mandi, memperbaiki pengairan, mengerjakan ladang dan sawah, dan bersama-sama pula memetik hasilnya.
Biasanya Huta hanya didiami beberapa anggota keluarga yang berasal dari satu leluhur. Disebabkan oleh pertambahan penduduk, kemudian dibangunlah rumah dekat rumah leleuhur atau ayah yang pertama. Demikian seterusnya bangunan rumah makin bertambah, sehingga terbentuk perkampungan yang lebih ramai. Sering pula kampung itu terdiri dari beberapa kelompok kampung-kampung kecil, yang hanya dipisahkan pagar bambu yang ditanam dipinggiran kampung.

KELAHIRAN ANAK / Poso-Poso



Share
KELAHIRAN ANAK adalah suatu even yang sangat ditunggu-tunggu suatu keluarga. Apalagi bagi komunitas Batak yang menganggap kesuburan (hagabeon) cenderung sebagai nilai tertinggi dalam hidup, tentu saja kelahiran anak adalah peristiwa yang luar biasa membanggakan dan membahagiakan. Itulah sebabnya jaman dahulu di Tanah Batak bila suatu anak lahir (dahulu tentunya di rumah sendiri dengan bantuan bidan atau sibaso, bukan di RS) maka ayah si anak akan segera membelah kayu secara demonstratif, walaupun tengah malam, di depan rumahnya dengan menimbulkan suara keras. Jendela rumah pun dibuka lebar-lebar dan asap pun membubung dari perapian dapur. Inilah suatu tanda kepada segenap penghuni kampung telah terjadi kelahiran atau kehidupan baru.
1. MANGALLANG HAROAN atau MANGALLANG ESEK-ESEK
Keluarga yang mendapat anak pun secara spontan segera memotong ayam dan memasak nasi kemudian mengetok pintu rumah para tetangga sekaligus kerabat walau tengah malam atau dinihari mengundang makan. Ibu-ibu se kampung pun spontan berdatangan bersama anak-anak. Inilah yang dinamakan mangallang haroan atau mangharoani (menikmati makanan kedatangan). Di daerah Silindung disebut mangallang indahan esek-esek. Jamuan ini bersifat sangat spontan dan seadanya. Jika tidak ada ayam di kandang maka sayur labu siam dan ikan asin pun jadi. Sebab itu mangharoani benar-benar suatu pesta ungkapan sukacita yang spontan dan tulus dari suatu komunitas yang saling mengasihi atas kehidupan baru.
Sementara itu di luar selama tiga malam para bapak mandungoi (bergadang) atau “melek-melekan” sambil bercengkerama dan “berjudi” sesamanya untuk menjaga si bayi dan ibunya dari kemungkinan ancaman kepada si bayi dan ibunya. Beberapa hari kemudian orangtua si perempuan (ompung bao) pun dan kerabat yang lain datang membawa aek ni unte (harafiah air asam) yaitu sejenis makanan sayuran bangun-bangun yang diberi asam dan disantan dengan campuran daging ayam untuk memulihkan raga ibu si anak dan menderaskan ASI.
Selain jamuan spontan mangharoani, di Toba dikenal juga tradisi mangambit atau marambit (harafiah: menggendong), jamuan resmi yang diadakan keluarga untuk menyambut kelahiran si bayi dengan memotong babi. Pada kesempatan inilah keluarga dapat menyampaikan permohonan kepada ompungbao (ompung dari pihak perempuan) agar menghadiahkan sepetak tanah yang disebut sebagai indahan arian (makan siang) kepada cucunya atau seekor kerbau/ lembu yang disebut batu ni ansimun (biji ketimun, yang dapat berkembang-biak). Namun berhubung tanah yang dapat dibagi-bagikan semakin lama semakin sempit, maka tradisi mangambit ini berangsur hilang.

Rabu, 27 April 2011

Legenda SI SINGAMANGARAJA XII



Share
Pada tahun 1875 Patuan Bosar yang kemudian digelari dengan Raja Ompu Pulo Batu, ditabalkan menjadi Si Sisingamangaraja XII di Bakara. Si Singamangaraja XI (Ompu Sohahuaon), ayahanda Si Singamangaraja XII, nyatanya telah berfungsi sebagai Raja-Imam Batak dalam tenggang waktu yang lama sekali (50 tahun), yaitu dari tahun 1825 hingga tahun 1875, yakni setelah Tuanku Rau, penganjur aliran wahhabi itu membunuh Si Singamangaraja X (Ompu Tuan Nabolon) pada tahun 1825 di dekat Siborong-borong.
Menurut adat istiadat Batak, putra tertua dari suatu keluargalah yang diutamanakan melanjutkan pekerjaan dan fungsi orang-tuanya, khususnya di bidang adat dan pemerintahan. Karena itulah maka penduduk di Bakara dan sekitarnya ingin menabalkan Ompu Parlopuk menjadi Si Singamangaraja XII. Tetapi karena untuk dapat menjadi Si Singamangaraja, seseorang harus mempunyai ciri-ciri kharismatis pula. Persyaratan itu harus dapat dipenuhi oleh orang yang akan ditabalkan menjadi penerus pimpinan kerajaan dan keimanan Si Singamangaraja. Kepemimpinan Kharimatis harus ada pada setiap Si Singamangaraja, yang pada masa lampau, di yakini selalu syarat mutlak daripada kepemimpinan dalam kerajaan, oleh penduduk yang masih dipengaruhi oleh suasana magis dan mystis, Calon Si Singamaraja harus dapat mencabut PISO GAJA DOMPAK dari sarungnya, menurunkan hujan dan membuat tanda-tanda luar biasa (mukjizat).Persyaratan ini nyatanya tidak dapat dipenuhi oleh Ompu Parlopuk tetapi dapat dipenuhi oleh adiknya, yaitu Patuan Bosar. PISO GAJA DOMPAK itu ada sejak Si Singamangaraja I yaitu sekitar pertengahan abad XVI masehi. PISO GAJA DOMPAK adalah lambang kerajaan Si Singamangaraja. Keris itu bukanlah sembarang keris. Keris panjang ini adalah salah satu terpenting di kerajaan Si Singamangaraja yang di mulai dan berpusat di Bakara, ditepi Danau Toba, hanya sekitar 8 km dari Pulau Samosir yang indah itu.

Jejak letusan Danau Toba



Share
Sekitar 70.000 tahun yang lalu, sebuah megaletusan gunung berapi mengguncang Bumi. Letusan itu diyakini sebagai yang terbesar dalam kurun waktu 2 juta tahun terakhir.
Seperti dimuat situs Badan Antariksa AS, NASA, dalam waktu sekitar dua minggu, ribuan kilometer kubik puing dimuntahkan dari Kaldera di Sumatera Utara. Aliran piroklastik -- awan yang merupakan campuran gas panas, serpihan batu, dan abu -- mengubur wilayah sekitar 20.000 kilometer persegi di sekitar kaldera.
Di , tebal lapisan abu  bahkan mencapai 600 meter. Abu Toba juga menyebar ke seluruh dunia. Di India misalnya, abu ketebalan abu sampai 6 meter.
Paska letusan, Gunung Toba kolaps, meninggalkan kaldera moden yang dipenuhi air -- menjadi . Sementara, Pulau Samosir terangkat oleh magma di bawah tanah yang tidak meletus. Gunung Pusuk Buhit di dekat danau itu juga terbentuk pasca letusan.
106465_kaldera-tobaKini, melihat  venetasi tropis subur yang memenuhi area tersebut, sulit dibayangkan dampak letusan gunung yang menghancurkan apapun, termasuk populasi manusia.
Padahal, kala itu, sangat sedikit makhluk bertahan hidup di bagian yang luas di Indonesia. Letusan Toba menyababkan 'musim dingin vulkanik' selama beberapa tahun, menimbulkan pendinginan global, dan mengakibatkan  konsekuensi yang sangat besar bagi kehidupan di seluruh dunia.